Kamis, 18 Desember 2008

D masiv

d masiv

BICARA skill, band Jakarta bernama D’Masiv ini sebenarnya sudah khatam. Mereka termasuk band festival di Jakarta yang memilih progresif rock sebagai pijakan bermusik. Semua personilnya --dulu-- kerap pamer skill individu untuk menarik perhatian penonton. "Memang, dulu kita ikut sering festival yang biasanya rock progresif," kata Rian, vokalis, ketika ngobrol dengan beberapa waktu lalu.

Personil lainnya, seperti Kiki [gitar], Rama [gitar], Ray [bass] dan Wahyu [drum], termasuk musisi yang awalnya juga kerap mengumbar skill. "Dulu kita memang terpengaruh band-band keras dan mengandalkan skill, seperti Dream Theatre. Jadi bawaannya mau main skill saja," aku Rian jujur. Malah ketika mereka merilis album perdana berjudul ’Menuju Nirwana’ lewat jalur indie, nyaris semua lagunya bermain di area progresif. "Album itu memang kita garap waktu kita masih SMA dan tanpa music director. Jadi memang kencang terus," kenang Rian soal album yang rilis tahun 2004 silam.

Seiring waktu, D’Masiv ternyata menyadari ada kelemahan dari apa yang mereka tonjolkan waktu itu. "Orang tidak bisa menikmati musik kita," tambah Rian. Lama-lama mereka memilih berkiprah di pop-rock dengan lirik dan lagu-lagu yang lebih bisa didengar dengan enak. "Bukan berubah, tapi proses pendewasaan musikalitas kita juga," tambah Rian.

Pilihan band yang terbentuk tahun 2003 ini pun berujung sukses. Mereka terpilih sebagai juara pada helatan salah satu ajang musik nasional. Sebagai kampiun, D’Masiv memang punya skill dan performance yang apik. Secara fashion juga tampaknya sudah dipersiapkan dengan matang.

Sebagai juara, mereka berhak atas album utuh dan tur selama setahun bareng sponsor. Diawali dengan album kompilasi yang juga menjagokan single mereka. "Ya kita sih berharap lagu-lagu yang kita buat ini bisa diterima dengan lebih baik," tegas Rian lag

sumber : rileks.com

Selasa, 02 Desember 2008

Dokter Perlu Tang dan Obeng Untuk Memeriksa Pasien

Di sebuah desa yang terpencil tinggal sepasang suami istri yang hidup dari bertani. Suatu saat, sang istri menderita sakit keras. Berhari-hari sang suami tercinta berusaha mencarikan obat demi kesembuhan sang istri namun sang istri tak juga sembuh.

Dari tetangga rumah, si suami mendengar kabar bahwa di desa sebelah ada seorang dokter muda yang baru datang dari kota. Maka tak menunggu lebih lama lagi, ia pun pergi ke desa sebelah untuk meminta tolong pada dokter tersebut.

Sesampainya disana, ternyata sang dokter masih sibuk melayani pasien-pasiennya. Baru setelah agak sore si dokter bisa ikut pergi untuk memeriksa istri si pak tani.

Sesampainya di rumah pak tani, si dokter langsung bertanya pada pak tani, "Mana istri Anda yang sakit"?

"Di kamar", jawab pak tani.

"Oke, saya akan memeriksa istri Bapak. Tolong jangan diganggu selama saya bekerja", kata si dokter.

Dokter muda itu kemudian masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Lima menit kemudian si dokter keluar sambil bertanya, "Ada obeng?"

"Buat apa dokter?", tanya pak tani.

"Nanti saja saya jelaskan. Cepat carikan obeng", kata si dokter.

Pak tani segera mencarikan obeng dan memberikannya pada si dokter.

Lima menit kemudian si dokter keluar lagi dengan badan bersimbah peluh dan bertanya, "Punya tang?"

Dengan kebingungan pak tani pun mencari tang dan menyerahkannya pada si dokter.

Tak lama kemudian si dokter keluar lagi tanpa mengenakan baju dan wajahnya nampak kusut sekali. Si dokter bertanya, "Punya Gergaji?"

Karena tak mampu lagi menahan keheranannya, pak tani pun berteriak, "Dokter apakan istri saya?"

Dengan napas terengah-engah si dokter menjawab, "belum saya apa-apakan, ini saya sedang mencoba membuka tas saya yang macet kuncinya."

Rabu, 26 November 2008

Jilbab

Mereka berdiri di sana dengan celana pendeknya, sangat pendek, super pendek
Yang mereka anggap sebagai model terkini
Sedangkan aku di sini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Mereka berdiri di sana dengan lautan make up di wajahnya
Yang mereka percayai sebagai kebebasan berekspresi
Sedangkan aku di sini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Mereka masih berdiri di sana dengan rambut basah berwarna warni,
Penuh dengan unsur kimia yang mereka anggap sebagai kemurnian jiwa
Sedangkan aku di sini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Mereka berdiri di sana berdua dekat, sangat dekat dengan kekasihnya
Yang membuat mereka sanggup memberikan segalanya
Sedangkan aku di sini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Dan mereka berdiri di sana asyik berbicara untuk membeli celana pendek model terbaru, pewarna rambut yang paling trendi, bahkan cara mendapat pacar baru
Yang mereka anggap sebagai memahami Keindahan Tuhan dan ekspresi cinta
Sedangkan aku di sini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Karena jilbabku inilah pelindungku, kekasihku, kemurnianku,
kecantikanku dan alatku untuk mengingat Allah
Saat aku meletakkan jilbab di atas kepalaku
Aku tahu segala kesesatan yang dibawa oleh setan akan dilenyapkan
Setelah selesai aku sematkan peniti, aku telah bebas?